twitter


(Sebuah kisah keluarga yang didapat dari teman…. Wajib baca, dan dijamin terharu. Jika tak tersentuh maka diragukan hatinya, hehehe…. semoga kisah di bawah ini dapat diambil hikmah dan pembelajaran)

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.


Ada satu hal yang sampai sekarang masih "menggelitik" dalam diri saya yaitu tentang tahlilan dan membaca surah yaasiin pada saat pelaksanaan.
Saya mencoba membayangkan suasana pada zaman Sunan Kalijaga, dimana pada saat itu "orang jawa" masih banyak yang baru masuk Islam setelah kerajaan majapahit hancur dan agama hindu mulai ditinggalkan. Salah satu "adat ritual" yang masih sering digunakan pada waktu ialah mengadakan selamatan bila ada anggota keluarga yang meninggal, dengan acara selama 7 hari berturut-turut bahkan sampai 40 hari tergantung kekayaan seseorang. Makin lama acaranya berarti dia orang yang kaya serta terpandang.
Mungkin karena beliau ingin agar tidak terjadi "tabrakan budaya", maka beliau mencoba untuk mengasimilasi budaya tersebut, dan berusaha menghilangkan hal-hal yang "diluar" Islam seperti sesajen, pembacaan doa-doa hindu, kewajiban menyediakan makan minum dan hal-hal yang membuat keluarga yang sedang berduka menjadi keberatan karena "harus" melaksanakannya.


Aku telah mengorbankan kebahagiaanku sendiri untuk membuatmu bahagia dan kau pun mengorbankan kebahagiaanmu untuk membuatku bahagia. Pada akhirnya kita hanya dua orang yang mencoba untuk saling membahagiakan, tapi tak pernah menemukan kebahagiaan... -Sadewi-



Benarkah Wall Facebook sama dengan Dinding Ratapan Yahudi? Wall khan Artinya dinding/tembok, Naahh… Percaya atau tidak, dan disadari atau tidak, ternyata wall facebook faktanya telah beralih fungsi. Kalo dulu fungsi awalnya sebagai tempat bersosialisai dan berbagi dengan teman teman, sekarang dah menjadi tempat untuk berdoa atau bahkan meratapi nasib yang sedang menimpa pemilik akun. Coba sekarang perhatikan/tengok beranda atau wall kita atau teman2 disana mungkin terlihat bahwa teman-teman kita di facebook banyak yang berdoa, mengeluh, bahkan meratapi kehidupan di dinding facebooknya. Karena faktanya seperti ini lalu apa bedanya dengan tembok ratapan di Yerussalem, yang juga merupakan tempat suci bagi kaum Yahudi*.



Kata-kata dalam Al-Qur’an, dengan sejumlah pengulangannya merupakan Mukjizat, jumlah kata-kata dalam Al-Qur’an yang menegaskan kata-kata yang lain ternyata jumlahnya sama dengan jumlah kata-kata Al-Qur’an yang menjadi lawan kata atau kebalikan dari kata-kata tersebut, atau diantara keduanya ada nisbah kontradiktif.

Al-Qur’an tidak hanya terbatas pada ayat-ayat mulianya, makna-maknanya, prinsip-prinsip dan dasar-dasar keadilannya serta pengetahuan-pengetahuan ghaibnya saja, melainkan juga termasuk jumlah-jumlah yang ada dalam Al-Qur’an itu sendiri, begitu juga pengulangan kata dan hurufnya, orang-orang yang melakukan ‘ulum’ Al-Qur’an sejak dulu sudah menyadarai adanya fenomena tersebut mempunyai maksud dan tujuan tertentu.



“Dalam sejarah, suatu kaum atau bangsa tidak hancur karena kebodohan, bukan karena tidak menguasai Iptek, bukan pula karena kemiskinan. Suatu kaum dimusnahkan karena akhlak mereka yang buruk. Degradasi moral dan akhlak yang melanda berbagai kalangan menjadi peringatan keras. Tingginya Korupsi, penyalahgunaan kewenangan, mau menang sendiri, tidak punya kepekaan merupakan bukti bahwa akhlak pelakunya amat buruk Akhlak mulia adalah refleksi keberimanan, semulia-mulia akhlak adalah beriman kepada Allah. Iman menguat, akhlak membaik, kecerdasan estetika meningkat semuanya merupakan karakter dasar kepribadian yang berbudi mulia”.




Dua puluh tahun yang lalu aku melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Hasan, suamiku, memberinya nama Erik. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Aku berniat memberikannya kepada orang lain saja atau dititipkan di panti asuhan agar tidak membuat malu keluarga kelak.

Namun suamiku mencegah niat buruk itu. Akhirnya dengan terpaksa kubesarkan juga. Di tahun kedua setelah Erik dilahirkan, akupun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Kuberi nama Angel. Aku sangat menyayangi Angel, demikian juga suamiku. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan & membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah.